Senin, 24 September 2012

Jadah - Tedak Siten

Yuhuuu... Indonesian Food Blogger udah 1 tahun lhooo.. *tiup terompet* Moga diusia ini IDFB makin berjaya, makin rame dan pastinya sukses dalam segala hal. Nah di Usia yang pertama ini IDFB ngadain  challenge IDFB Chapter 6 yang kali ini temanya "Indonesian festive Rice"... hhmmmm setelah ngubek-ngubek olahan beras yang biasanya digunakan dalam perayaan sesuatu akhirnya terpilihlah "Jadah" atau orang mengenalnya dengan sebutan Jenang atau Ketan Uli atau di tempat saya (madura) orang-orang menyebutnya tettel. Biasanya Jadah ini digunakan dalam perayaan Tedak Siten. Ritual ini pada umumnya dikenal di kalangan masyarakat Jawa.


Tedak Siten sendiri berasal dari kata Tedak yang berarti menapakkan kaki atau langkah, dan Siten yang berasal dari kata siti berarti tanah. Maka, Tedak Siten adalah turun (ke) tanah atau mudhun lemah. Lengkapnya, tradisi ini diperuntyukkan bagi bayi berusai 7 lapan atau 7 x 35 hari (245 hari). Jumlah selapan adalah 35 hari menurut perhitungan Jawa berdasarkan hari pasaran, yaitu Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage. Pada usia 245 hari, si anak mulai menapakkan kakinya pertama kali di tanah, untuk belajar duduk dan belajar berjalan. Ritual ini menggambarkan kesiapan seorang anak (bayi) untuk menghadapi kehidupannya.

Tedak Siten juga sebagai bentuk pengharapan orang tua terhadap buah hatinya agar si anak kelak siap dan sukses menapaki kehidupan yang penuh dengan rintangan dan hambatan dengan bimbingan orang tuanya. Ritual ini sekaligus sebagai wujud penghormatan terhadap siti (bumi) yang memberi banyak hal dalam kehidupan manusia.

Pada zaman dulu, masih banyak masyarakat Jawa yang melakukan ritual ini untuk anaknya. Sejumlah perlengkapan untuk ritual ini adalah Jadah (tetel) tujuh warna, jadah merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan parutan kelapa muda dengan ditambahi garam agar rasanya gurih, warna jadah 7 rupa itu yaitu warna merah, putih, hitam, kuning, biru, jingga dan ungu. Makna yang terkandung dalam jadah ini merupakan simbol kehidupan yang akan dilalui oleh si anak, mulai dia menapakkan kakinya pertama kali di bumi ini sampai dia dewasa, sedangkan warna-warna tersebut merupakan gambaran dalam kehidupan si anak akan menghapai banyak pilihan dan rintangan yang harus dilaluinya. Jadah 7 warna disusun mulai dari warna yang gelap ke terang, hal ini menggambarkan bahwa masalah yang dihadapi si anak mulai dari yang berat sampai yang ringan, maksudnya seberat apapun masalahnya pasti ada titik terangnya yang disitu terdapat penyelesaiannya. Sebenernya ritual Tedak Siten ini panjang, tapi disini saya ambil bagian-bagian tertentu saja ya..


Resep :
- 1 liter beras ketan cuci bersih dan rendam semalaman
- 1 butir kelapa sedang - diparut (maksudnya sedang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda)
- 1/2 sdt garam
- Daun pandan

Cara Membuat :
1. Kukus beras ketan dan daun pandan yang sudah dicuci bersih sampai matang kemudian angkat.
2. Taburi ketan yang sudah matang dengan parutan kelapa dan garam kemudian kukus kembali sampai benar-benar matang.
3. Buang daun pandan, taruh ketan dalam wadah kemudian ditumbuk hingga liat
4. Ratakan ketan yang sudah ditumbuh dalam wadah sesuai keinginan

Waktu bikin Jadah ini saya bikin warna putihnya dulu kemudian untuk kelengkapan warna yang lain saya bagi dalam bulatan kecil dan diberi pewarna makanan pada bagian atasnya. Maunya jadah warna warni saya taruh dalam wadah juga tapi apa daya wadahnya ga cukup jadi biar adil dan merata digelar aja diatas kayu. Untuk Jadah yang berwarna hitam saya menggunakan ketan hitam, perlakuan dan resepnya sama seperti membuat Jadah dari beras ketan putih cuma ukurannya saya kurangi beberapa bagian tapi ntah kenapa setelah ditumbuk hasilnya lembek jadi tidak bisa dibentuk bulatan seperti warna yang lain hehehe..


Jadah kalo dirumah biasanya disajikan dalam bentuk potongan seperti diatas, bisa juga setelah dipotong terus digoreng disajikan bersama teh manis hmmm.. nikmat .

Selamat Ulang Tahun IDFB...!!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar